Wednesday, January 2, 2013

Ritual Kematian Adat Suku Toraja


Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas". Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Dan pada kali ini saya akan membahas tentang ritual pemakaman yang ada pada suku toraja ini.
Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal. Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan. Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.
Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman. Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses yang bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.
Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam "masa tertidur". Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau. Penyembelihan puluhan kerbau dan ratusan babi merupakan puncak upacara pemakaman yang diringi musik dan tarian para pemuda yang menangkap darah yang muncrat dengan ba
mbu panjang. Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.
Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan. Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar. Peti mati bayi atau anak-anak digantung dengan tali di sisi tebing. Tali tersebut biasanya bertahan selama setahun sebelum membusuk dan membuat petinya terjatuh.
Dari penguraian akan kepercayaan masyarakat Toraja (Aluk Todolo) serta melihat dari ritual pemakaman mereka dapat disimpulkan bahwa masyarakat Toraja (dulu) masih memakai paham Animisme dan Pemujaan Terhadap Leluhur. Animisme yaitu suatu kepercayaan dari manusia religius, khususnya orang-orang pfrimitif, membubuhkan jiwa pada manusia dan juga makhluk hidup atau benda mati (kepercayaan terhadap makhluk berjiwa). Dan pemujaan terhadap Leluhur yang dapat dirumuskan sebagai suatu kumpulan sikap, kepercayaan dan
praktik berhubungan dengan pendewaan orang-orang yang telah meninggal dalam suatu komunitas, khususnya dalam hubungan kekeluargaan. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat Toraja masih menganut kedua paham ini karena setiap ritual yang dilakukan mereka masih mengarahkannya pada Arwah nenek Moyang mereka. Seperti pula saat masyarakat Toraja melaksanakan upacara pemakaman, mereka membuat suatu patung (Ma Tau-Tau) yang dibuat sebagai personifikasi dari seseorang yang sudah meninggal dunia yang mereka percayai bahwa jiwa patung tersebut memiliki jiwa dari jiwa orang yang telah meninggal tersebut (tau-tau adalah. iving dead). Bahkan orang yang telah meninggal masih diberi makanan selayaknya orang yang yang masih hidup. Pemujaan terhadap leluhur saya pikir berhubungan erat dengan struktur sosial karena dipercaya dapat mengatur kehidupan para pemujanya. Agama suku (Aluk Todolo) ini jugalah yang telah membentuk masyarakat Toraja, baik dari aturan- aturan dan undang yang ada didalamnya. Meski banyak hal misteri yang masih terselubung didalam Aluk Todolo ini, namun masyarakat Toraja benar-benar menghayati akan kepercayaan yang mereka anut ini, dengan keyakinan bila dijalankan dengan baik akan mendapat berkat dan kesejahteraan dan bila diabaikan akan mendapatkan malapetaka.


Sumber: wandaseptianibulo.blogspot.com/2011/05/ritual-kematian-dan-kepercayaan.html?m=1
id.m.wikipedia.org/wiki/Suku_Toraja

No comments:

Post a Comment

Post a Comment